02 Desember 2007

Kambium Post Partum


Saat sedang mencari pembalut wanita bersalin di salah satu hipermarket, Istri menemukan merek ini. Terletak di rak terbawah, lecek kemasan plastiknya. Seperti sudah lama tergolek di situ, tidak ada yang membeli. Mungkin gambar wanita dan anak yang jadi modelnya itu tak lagi memikat hati para calon pembeli masa kini. Kuno.

Namun justru ke-old school-annya itu yang membuat Istri tertarik. Apalagi meski penampilannya sama sekali tidak menarik, merek ini berani memasang harga lebih tinggi, nyaris 2 kali lipat dari pembalut wanita bersalin dengan merek yang jauh lebih terkenal. Sayangnya sampai saat ini Istri belum bisa mengetahui kelebihan si Kambium ini, lha wong belum melahirkan :).

Ngomong-ngomong, kambium sendiri bukan kata yang asing. Dalam pelajaran biologi waktu SMP (kalau nggak salah) kata ini mulai dikenal. Memang biasanya dihubungkan dengan dunia tanaman. Saya sendiri sih lupa definisi pastinya. Namun Columbia Encyclopedia memberikan penjelasan singkat di sini.

Yang Istri tak habis pikir adalah mengapa Kambium dipilih sebagai merek untuk pembalut wanita bersalin, ya?

08 November 2007

tips berbelanja perlengkapan bayi

Salah satu kegiatan yang paling menyenangkan saat memasuki kehamilan trimester ke tiga adalah berbelanja perlengkapan bayi. Paling tidak ini yang dirasakan oleh Istri. Meski badan rasanya sudah berat banget karena ke mana-mana membawa si Cimut, tapi kalau untuk urusan yang satu ini seakan semua beban terangkat.

Awalnya Istri sempat bingung, tak tahu apa yang mesti dipersiapkan atau dibeli. Maklum, ini kehamilan pertama. Begitu banyak toko bayi bertebaran di ITC dan blank, tak tahu apa yang mesti dipersiapkan. Akhirnya yang Istri lakukan dan mungkin bisa jadi tips bagi 1st time expecting mom yang lain:


1. Tanya pada teman yang baru saja melahirkan.

Apa dan berapa jumlah yang mereka beli. Dengan senang hati mereka akan memberi petuah bijak tentang berapa banyak yang mesti kita beli agar tidak mubazir. Juga apa yang tak perlu dibeli sekarang karena biasanya akan dapat dari kado. Atau mereka malah akan menawarkan diri untuk memberi pinjaman.


2. Cari info di milis, forum, atau blog.

Sekarang cukup banyak Blogger Mom yang dengan senang hati memposting hasil belanjaan mereka apa saja, di toko mana, dan berapa harganya. Termasuk Istri, hihi... Catat atau print sebanyak mungkin.

3. Mampir ke toko bayi di ITC.
Mereka punya daftar perlengkapan bayi dan ibu. Banyak sekali pernak-perniknya. Tak harus dibeli semua. Yang pokok-pokok saja, dan itu semua bisa diketahui dari 2 cara di atas.

4. Cari tahu toko bayi mana yang banyak direkomendasikan karena murah.
Lebih cepat daripada kita pusing berkeliling mencari tahu sendiri toko mana yang murah.

Setelah semua info itu dikumpulkan, buat rekap di selembar kertas. Berapa jumlahnya, barang apa, merek apa, berapa harganya di toko mana. Tak harus membeli di toko yang sama, sih. Cari saja toko yang paling mudah dijangkau dari rumah. Catatan harga tadi untuk patokan saja agar tidak kemahalan. Sekedar berbagi, hasil belanjaan Suamistri bisa diintip di sini.

Sekedar tambahan tips saat berbelanja:
- Beli baju newborn yang ukurannya cukup besar. Beda merek, beda ukurannya. Ada yang besar, ada yang kecil. Bahkan dari merek yang sama pun, antara yang polos dan bermotif juga bisa beda ukuran. Seperti pengalaman saya sendiri, begitu sampai rumah baru sadar kalau baju yang polos lebih gede daripada yang bermotif. Padahal mereknya sama.
- Baju bahan katun memang lebih ‘silir dan adem’ tapi baju dari bahan kaos lebih bisa lebih mengakomodasi perkembangan tubuh bayi kalau dia sudah tambah gendut.
- Popok tali carilah yang punya lapisan tengah dobel.
- Popok tetra juga penting dimiliki, buat disumpelin kalo dia pakai celana pop. Katanya juga popok tetra ini lebih mudah dibersihkan noda pupnya, lho.
- Washlap beli yang halus dan lembut karena kulit bayi masih sangat halus.
- Bedong bayi meski sudah tak dianjurkan, tak ada salahnya membeli. Selain sebagai penghangat, kelak bisa digunakan sebagai alas ompol jika si bayi sudah besar. Juga bisa untuk selimut tipis. Jadi beli agak banyak juga tak ada salahnya.
- Alas ompol salur sepertinya lebih menyerap, tapi kalo buat lucu-lucuan, beli yang flanel juga boleh, gambarnya bagus-bagus, sih.
- Handuk bayi tidak wajib. Pakai handuk dewasa pun boleh asal lembut.
- Celana panjang tutup kaki memang enak, hangat, dan praktis. Tapi kalau si bayi tambah tinggi, celana ini sudah tidak bisa dipakai lagi, kecuali ujungnya digunting.
- Gunting kuku pilih yang berbentuk gunting dengan ujung bulat. Kalau yang model nail clipper, resiko jari si bayi terluka akan lebih besar.


Dan yang terakhir yang tak kalah penting: Persiapkan mental suami untuk menemani istrinya belanja perlengkapan bayi, sebab kegiatan ini tak hanya menguras kantong namun juga menguras energi dan waktu. Hehe...

20 Juli 2007

Lagi Jalan Ketemu "Ongklok"

mie nya enak buanget pengen nambah terus ~ Angelina Sondakh

Ealah, coretan tangan dari si mbakyu ginuk-ginuk anggota DPR yang terhormat itu, kami temukan di dinding sebuah rumah makan, di tengah perjalanan antara Semarang ke Dieng. Tepatnya di Mie Ongklok, di Jalan Achmad Yani, Wonosobo.





















Sumpah, kami belum pernah dengar tentang makanan atau tempat ini sebelumnya. Ceritanya waktu itu jam 3 sore, di jalan ketemu tempat yang kelihatan rame, lalu mampir.

Mencari makanan enak dengan modus "langsung sergap" (ala petualang2 kuliner) seperti ini bukan gayanya SuamIstri. Paling tidak biasanya kami akan baca/dengar referensi tentang suatu tempat dengan makanannya terlebih dulu, baru diserbu. Tapi kali itu, apa boleh buat, lapar sudah memanggil.


Jujur: mie ongklok, menurut lidah kami, tidak istimewa. Di lidah Angie, mungkin bisa beda. Tak heran kalau akhirnya si mbak itu "pengen nambah terus" dan menjadi ginuk-ginuk itu tadi.

Mie ini seperti mie rebus biasa, pada umumnya. Mungkin yang agak unik, kita disarankan memakannya ditemani seporsi sate ayam. Kombinasi makanan itu bisa kita anggap saja begini: suatu hari kita makan nasi dan sate, eh ternyata tukangnya jualan mie juga. Atau pesan mie rebus terus dimakan pakai nasi, mmm... kayaknya enak juga ya kalau nyegat tukang sate. Atau, "Mas! Pesen nasi satu, lauknya mie dan sate!" Halah, malah jayus.


Mungkin testimoni yang satu ini, lebih netral.















Mie Ongklok Nyam2... & Kueenntaall ~ Mario Lawalata


Sebenarnya masih ada testimoni2 lain yang terpasang di dinding. Kebanyakan dari mereka yang sering dinamakan orang sebagai artis2 ibukota. Tapi kami tidak terlalu perhatikan lantaran mata kami keburu tertumbuk kep
ada deretan almanak yang dipasang berjejer di dinding. Dalam perhitungan Suami, totalnya 15 buah. Ada almanak yang dari toko emas, kepolisian, tentara, leveransir, pabrik mie, suplier tepung, dsb.

Hmmm, bisa jadi itulah cara si pemilik rumah makan untuk menghargai hadiah dari orang lain. Seluruh kalender pemberian, kenang-kenangan, (atau bisa juga menjadi tanda bukti telah menyumbang) dipajang di dinding.
















Oya, maap, hampir lupa. Mumpung zamannya tren wisata kuliner, dan pemunculan blog2 yang genit berusaha meriviu makanan2 seantero jagat, SuamIstri juga merasa harus tidak perlu malu untuk memajang gambar mie ongklok yang sudah menjadi ciri khasnya Wonosobo itu.

















Entah, apa sebenarnya arti dari kata ongklok. Ada yang tau?


19 Juli 2007

Nggak Romantis Nggak Puitis

Kalau malam itu akhirnya SuamIstri menyempat-nyempatkan diri untuk melihat aksi Daniel Sahuleka, bukan karena SuamIstri ngefans pada penyanyi berdarah Sunda-Ambon-China yang sekarang jadi warga negara Belanda ini. Tapi antara lain alasannya karena pertunjukkannya gratis. Thanks berat Erasmus Huis!

Seperti umumnya orang2 Indonesia, lagu2 yang SuamIstri kenal dari Kang Daniel (boleh dong panggil Kang, kan ada darah Sunda-nya) semacam: Don't Sleep Away The Night dan You Make My World So Colourful. Suami mungkin rada lumayan, masih tahu satu lagu lagi, I Adore You.

Sewaktu masih pacaran, Suami pernah "mempersembahkan" lagu I Adore You untuk didengarkan Istri. Kepengen juga dinyanyiin waktu pemberkatan pernikahan, tapi karena takut malah ribet urusannya, koor tidak tahu, latihannya susah dsb, akhirnya batal.










I'm maybe not romantic

I'm maybe not poetic
sometimes I'm not that fluent
to find those magic words

Besok-besoknya, Suami akhirnya malah akhirnya sempat ketemu langsung dengan Daniel, waktu dia datang ke kantor untuk (minta) diwawancarai. Kesannya singkat aja: baik, humoris, terbuka, perasa, dan agak2 cenderung melambai.

Ngakunya (mungkin) nggak romantis, (mungkin) nggak puitis,
cuma melankolis.


19 Februari 2007

Selamat Datang Air

Kata orang,
musim hujan + pengantin baru = enak
musim hujan + pengantin baru + banjir = enek (eneg, maksudnya)

Syukurlah, sewaktu Jakarta dilanda "Banjir Besar 2007", rumah (kontrakan) kami tidak kebanjiran. Jadi ada enaknya, ada eneg-nya juga.

Nih, foto2 waktu semua akses keluar-masuk Ciledug, tempat di mana SuamIstri ngontrak, terblokade air. Buat kenang2an.




















Mumpung sepeda motor belum bisa panuan



















Riang bermain, koreng mengancam
























Beralih fungsi




















"Lewat sono aja Pak. Banyak tukang duren!"























Partisisapi preman lokal


foto-foto: SuamIstri

Lilypie Expecting a baby Ticker